Di(chy)a Zoraya
August 22nd, 2008 by boe-wieklik http://handaries.wordpress.com
klik http://handaries.wordpress.com
dingin memang selalu begitu Klik di sini
Kalau saja…..Lihat disini
Tak ada lagi hari esok…. klik di sini
Baca di sini Klik aja
sekarang aku ada di Aku dan Permataku . mampir ya…..
Piringan perak pipih berangka itu masih terus setia memberitahukanku cepatnya perpindahan waktu, senyap dan hening ketika dia berdetak. Tak jauh darinya, lembaran karton berhias huruf dan angka serupa juga selalu menghadang wajahku, ia tetap setia mengabarkanku akan hari-hari yang terus berlalu. Pikirku mulai menerawang jauh berusaha menjejak hari-hari dan waktu yang terlewati, ujungnya hanya kerinduan. Sebuah rasa yang terkadang menyiksa dan selalu menarikku untuk terus mengingat sebuah nama dan sebentuk wajah. Permataku
Belaian lembut angin kala matahari terik bersinar tetap takkan mampu menyamai hembusan sejuk nafas yang menyelimuti merdu suaranya kala tersenyum. Yang kutahu hanya itu……selebihnya aku hanya berharap inderaku lebih peka menangkap setiap keindahannya.
Habis sudah kata-kataku untuk menarik semua rasa…mengulumnya dalam jalinan kalimat indah dan mengirimnya melalui hembusan angin untuk sekedar mengatakan aku merindumu, namun dalam hening ruang persegi yang disekat tembok-tembok kekar nan angkuh aku tahu di luar sana dia merasakannya, untuk selalu merinduku ketika aku sangat merindukannya
Sore ini di atas dipan bambu tua aku duduk dalam hening berteman
buku-buku tua dan secangkir kopi. Entah apa yang ada dalam sel-sel otakku yang
kompleks, tapi hening inilah yang menenangkan. Lelah benar-benar telah memaku
seluruh jaringan ototku, jenuh telah menyekap daya pikirku, dan jengah hampir menutupi
seluruh inderaku.
Seruput kecil kopi hitam mencoba menghilangkan lelahku. Dalam sedikit
itu kembali kudapatkan kenikmatan dalam hangatnya. Aaah…seandainya hidup ini
semudah seruput kecil itu…..
Di sudut ruang dalam remang serambi, rangkaian gambar dalam kotak tipis
21 inchi memaku pandanganku, memainkan kilatan-kilatan cahaya beradu suara, menawarkan
ektase semu dalam balutan khayal yang jumud.
Lemah kutuliskan bait-bait kata dalam hening mencoba menafsikar gambar
yang terlihat dengan nalar yang mulai redup
telingaku tiba-tiba memanas..
saat si renta lusuh bersuara lantang
berbicara tentang hak yang hilang
berdebat tentang kehidupan yang tidak lagi
layak
bertikai karena perut tak mau lagi diajak
berdamai
mataku tiba-tiba memerah
ketika pandangan kontras mobil mewah mengkilat
beradu dengan laju lemah gerobak berkarat
saat gerai-gerai pemuas prestise kaum elit
hanya ada dalam khayal kaum kumuh penuh sulit
hatiku tiba-tiba merana
saat tangan tak lagi mampu meraba
saat kaki tak lagi mampu menjejak
saat akal tak lagi mampu menakar
saat yang dimiliki hanya ada dalam
penjara diri………
Nalarku mulai menghilang, pena dalam dekapan jariku tak lagi melangkah…… ……terhenti.
Kembali kurebahkan punggungku di atas dipan bambu tua, memandang atap
yang mulai rapuh. Berkhayal akan sesuatu
yang semu. Suatu hari nanti……..
Semalam ditengah lelah yang memaku tubuh, kembali aku bertemu
dengannya. Seorang bocah lusuh berbaju biru, tanpa lengan dan berlubang, pakaian
serupa seperti yang aku lihat dua hari yang lalu, baju yang mungkin melekat di
tubuhnya lebih dari seminggu.
Arus kendaraan di ruas jalan baru malam itu cukup ramai, lalu lalang bis,
mobil dan motor berkejaran dengan wajah-wajah lelah dan lusuh yang terkesan
acuh. Teriakan kondektur dan calo jalanan beradu dengan jerit para pedagang
buah, menawarkan dagangannya yang tertata rusuh di pinggir jalan. Aku berdiri
diam juga tak acuh memandang kosong ke arah bocah lusuh berbaju biru.
Bis hijau berkarat mulai perlahan bergerak, kondektur lusuh dan tua
mulai ramai berteriak, beberapa wajah lelah bergegas menghampiri, malas menjejakkan
kaki ke atas tangga takut tertinggal.
Ahhh…seandainya waktu mau berhenti sesaat,
ingin aku terus berdiri dan menikmati bayanganku akan bocah lusuh berbaju biru,
bocah yang polos dan terlantar, yang asyik bercengkrama dengan ketidakpeduliannya
akan sekitar.
Bis hijau berkarat itu mulai bergerak cepat, melindas aspal hitam
yang selalu menerima kodratnya untuk dilindas dan di ludahi. Aku berlari, melompat
ke atas tangga bus hijau berkarat, dan mencari bangku yang kosong untukku melepas
penat.
Perlahan kucoba untuk memejamkan mata, mencari cara untuk melewati waktu-waktu
kosong yang melelahkan, berharap tujuan hanya selangkah saat mata terbuka. Namun
tiba-tiba, sayup terdengar suara bocah parau menusuk telingaku, mengusik
ketenangan yang ingin aku dapatkan dalam perjalanan yang tidak lagi tenang. Menggeliat
malas, memicingkan mata, tertegun aku pada sosok yang tertangkap.
"Bocah itu
lagi…..!" teriakku dalam hati.
Dengan suara parau dan gemerincing tutup botol yang terpaku pada
sebilah bambu, dia menyanyikan lagu cinta. Nyanyian yang aku yakin dia sendiri
tidak memahaminya. Nyanyian gombal yang hanya ada dalam legenda tua. Nyanyian yang akhirnya hanya membuat perut mual dan kepala pening.
Tapi dia
terus bernyanyi, tak peduli akan apa yang terdengar, tak peduli siapa yang mau
menikmati, dan juga tak peduli berapa kepala yang mendongak terbangun dari
lelap karena suaranya. Satu yang ia peduli hanya fase akhir dari lagunya, ketika
kertas-kertas berharga atau keping-keping harapan memenuhi plastik lusuhnya.
Bis hijau berkarat mulai melambat, di persimpangan jalan antar jurusan
bocah lusuh berbaju biru itu melompat turun, dan menghilang di antara
wajah-wajah lelah dan lusuh, yang menunggu harap tumpanganya lewat.
Bayangan akan bocah tadi masih tak mau hilang, tak cukup untuk menjawab
rekaman pendek dari slide memoriku. Sayup-sayup kudengar suara parau Iwan Fals,
mengingatkanku akan masa kecil yang sulit namun selalu kurindukan.
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi
satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal